Mengintip Sejarah Berdirinya Bank Digital di Dunia

Era bank digital sudah dimulai, tentu ini merupakan tantangan besar yang tidak mudah dihadapi oleh bank konvensional yang mana harus bersaing dengan pesaing baru. Sejumlah negara juga sudah berencana memberikan lisensi bank digital yang dinilai menawarkan banyak kemudahan, terlebih dalam hal efisiensi biaya. Dengan rencana tersebut, tentu posisi bank konvensional akan semakin terguncang.

Di Indonesia sendiri, hampir 50% konsumen mempertimbangkan migrasi ke layanan bank digital. Apalagi sebagian besar aktivitas masyarakat modern khususnya dalam hal perbankan dapat dilakukan sepenuhnya di internet. Dengan adanya fitur digital banking, maka seluruh aktivitas perbankan nasabah mulai dari transfer uang, menabung, deposito, dan lain sebagainya yang biasa dilakukan di bank konvensional dapat diselesaikan dari rumah.

Penasaran bagaimana sejarah bank digital bisa eksis seperti ini? Yuk simak pembahasan berikut.

Sejarah Berdirinya Bank Digital di Dunia

Bank digital berkembang bersama dunia financial technology (fintech). Bisa dibilang mesin ATM yang muncul pada tahun 1960-an lah yang menjadi salah satu akar dari layanan ini. Sebab untuk pertama kalinya sejak layanan perbankan hadir, setiap nasabah dapat mengakses rekeningnya tanpa perlu ke bank.

Kemudian kemunculan internet juga membawa perubahan besar terhadap dunia perbankan. Perlahan tapi pasti, dunia digital terus berkembang seiring dengan maraknya penggunaan smartphone di dunia. Kini, hampir setiap bank yang ada memiliki layanan online. Bank digital juga berkomintem menciptakan layanan keuangan yang menawarkan berbagai kemudahan kepada nasabah.

Di tahun 2021, rencana pendirian bank digital pun semakin sering terdengar. Misalnya pada beberapa negara tetangga Indonesia, yaitu Singapura dan Hong Kong yang telah memberikan lisensi atau izin operasi secara penuh. Tak tanggung-tanggung, perusahaan sekelas Grab Holding Inc juga telah menggandeng Singapore Telecommunications Ltd untuk mendirikan bank digital di Singapura supaya mudah mendapatkan lisensi dari pemerintahnya.

Hal ini tentu menjadi alasan mengapa negara lain mulai membuka pintu untuk memberikan lisensi kepada layanan bank digital. Misalnya Inggris, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Kelebihan dari bank digital adalah menawarkan efisiensi biaya yang tidak diberikan bank konvensional. Bank gitial juga mampu menawarkan bunga deposito yang besar dan lebih tinggi dari pada biasanya.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, Indonesia bahkan belum memiliki regulasi khusus terkait bank digital. Aturan yang bisa dijadikan acuan pengoperasioan bank digital di Indonesia satu-satunya hanyalah Peraturan OJK Nomor 12 tahun 2018 yang menjelaskan tentang layanan perbankan digital dikembangkan dengan mengoptimalkan data nasabah, memudahkan kebutuhan, serta bisa dilakukan mandiri tanpa mengabaikan aspek keamanan.

Meskipun demikian, bisa dibilang saat ini tren bank digital mulai menjamur di Indonesia. Terlihat dari aksi PT Bank Central Asia Tbk yang belum lama ini mengakuisisi Bank Royal untuk menjadi layanan bank digital BCA. Selain itu, ada juga Bank Artos yang berencana bertransformasi menjadi bank digital setelah diakuisisi oleh Patrick Walujo pendiri Northstar Group dan Jerry NG mantan Direktur Utama Bank BTPN.

Ekspansi perusahaan teknologi yang lebih agresif juga mempengaruhi perkembangan bisnis layanan keuangan digital ini. Salah satunya adalah perusahaan Facebook, mereka telah menyiapkan infrastruktur bank model baru yang memungkinkan pengguna dapat melakukan pembayaran dari aplikasi berbeda.

Keunggulan Bank Digital Memberikan Kemudahan Transaksi

Perusahan teknologi bisa menjadi kawan dan lawan bank konvensional. Seperti yang dilaporkan, bank digital memiliki keunggulan dalam hal memudahkan transaksi. Inilah yang menarik banyak nasabah untuk bermigrasi ke layanan bank digital. Selain itu, nasabah juga dijanjikan kompensasi yang lebih besar daripada bank konvensional.

Layanan bank digital sangat memudahkan akses. Kapanpun dan dimanapun nasabah berada selama memiliki internet, mereka dapat membuka rekeningnya. Kepraktisan ini tentu membuat layanan bank digital terlihat lebih menarik, tidak perlu waktu lama dan tidak perlu buang tenaga untuk mengakses perbankan secara penuh. Kegiatan transaksi juga jadi lebih cepat dan fleksibel karena tersedia 24 jam.

Kekurangan Bank Digital     

Selain kelebihan, bank digital tentu memiliki kekurangan. Internet adalah salah satunya, saat koneksi buruk, ini dapat menyebabkan gangguan teknis yang membuat para nasabah kesulitan mengakses rekeningnya. Ditambah lagi sering terjadi kasus kejahatan yang merugikan nasabah, seperti pencurian data pribadi hingga pembobolan rekening. Selain itu, akses yang dilakukan secara terus menerus dapat membuat kuota nasabah cepat habis. Namun tenang saja, hal ini bisa dicegah dengan memilih layanan bank digital terpercaya.

Haruskah Beralih ke Bank Digital?

Apakah kita harus menjadi nasabah Bank Digital? Keputusan tersebut dapat diambil sesuai kebutuhan Anda. Apabila Anda menginginkan layanan perbankan yang praktis dan fleksibel, maka gunakan bank digital. Disisi lain, beberapa bank konvensional juga sudah mulai bermigrasi sepenuhnya ke layanan internet. Contohnya Bank Mandiri, melalui aplikasi Livin’ by Mandiri para nasabah bisa langsung mengakses rekening melalui smartphone. Tingkat kecanggihan layanan ini tentu sangat tinggi, nasabah jadi lebih mudah bertransaksi tanpa harus datang ke kantor cabang.

Nah, itulah sejarah berdirinya bank digital di dunia. Semoga informasi di atas bermanfaat.

Sharing is caring!