Persaingan Aplikasi Digital Banking di Indonesia

Aplikasi Senyumku

PT Bank Seabank Indonesia atau yang dulu dikenal sebagai PT Bank Kesejahteraan Ekonomi ini mengganti nama dikarenakan bank tersebut telah diakuisisi Sea Group yang mana merupakan induk dari perusahaan e-commerce yang bernama Shopee.  Direksi dari Seabank memberikan informasi mengenai pergantian nama kepada para pemegang sabang, mitra bisnis serta para nasabah.

Bersamaan Sea Bank, banyak dari bank lainnya juga melakukan proses untuk menjadi bank digital. Seperti contohnya Digital Banking dari BCA yang mempunyai target akan diluncurkan pada tahun 2021 pada semester pertamanya, yang akan diubah menjadi digital sepenuhnya atau neo-bank serta akan menyasar untuk digunakan dari para kalangan generasi milenial.

PT Bank Jago Tbk juga meluncurkan aplikasi digital yang bernama Jago Apps di tahun 2021 ini. Perusahaan yang dirintis oleh gojek ini juga menjadi dari salah satu pemegang saham dari bank tersebut sebesar 22,16%.

Untuk dari pemerintah, Direktur utama dari bank BRI atau PT Bank Rakyat Indonesia mengatakan jika perusahaan akan membuka peluang agar menjadikan anak dari usahanya yaitu BRI Agroniaga menjadi bank digital. Menurut direktur utama, BRI Agro dapat menjadi suatu bank digital dikarenakan oleh ukurannya yang masih kecil.

Untuk catatan, model bisnis dari bank digital ini yang mana telah diterapkan oleh beberapa pelaku usaha yang bersangkutan memiliki perbedaan pada layanan digital perbankan yang sudah ada contohnya yaitu internet banking, mobile banking serta SMS banking.

Akses pada layanan perbankan secara digital seluruhnya diakses dengan koneksi internet termasuk pada pembukaan suatu rekening. Bank Digital pun juga tidak membutuhkan kantor cabang berupa fisik seperti yang ada pada bank konvensional umumnya.

Pihak OJK juga menyebutkan, bank digital sendiri didirikan untuk dibagi kedalam dua jenis, yang pertama yaitu entitas baru dan akan beroperasi secara penuh sebagai bentuk bank digital. Kedua, sebuah transformasi dari perbankan konvensional ke bank digital.

Menurut Anung Herlianto selaku Dirut Otoritas Jasa Keuangan, lembaganya sedang menyusun peraturan terkait pengembangan bank digital, dan salah satu aturannya yaitu modal yang harus dimiliki bank minimal 10 triliun.

Persaingan Ketat Pada Segmen Ritel

Sejumlah pelaku bisnis bank digital ini nantinya akan mengalami persaingan yang begitu sengit pada segmen konsumsi atau pembiayaan ritel. Alasannya adalah dimana segmen tersebut berdasarkan karakter dari setiap bank digital yang ada.

Sebagai informasi penting, sektor perbankan mempunyai tiga jenis untuk metode pembiayaan sesuai penggunaan, seperti :

  • Investasi
  • Kredit Modal Kerja
  • Konsumsi

Terdapat dua fasilitas untuk kredit yang pertama umumnya dipakai untuk berbagai aktivitas produktif, berupa mendirikan proyek baru, atau jadi modal usaha. Sementara, untuk jenis kredit konsumsi yaitu fasilitas yang diberikan ke perorangan untuk produk atau barang yang dikonsumsi.

Selain itu, data dari Bank Indonesia Memperlihatkan, Kredit Modal kerja mempunyai porsi paling besar daripada investasi dan konsumsi. Seperti contoh, dari Desember tahun 2020 kemarin, total kredit mencapai 5.481 triliun, untuk jumlah kredit kerja hingga 44,98%, sisanya ada pada kredit konsumsi 28,23% serta kredit investasi mencapai 26,79%.

Doddy Ariefianto menyatakan, dari kredit konsumsi sebesar 1.547 triliun atas 28,23% tersebut, sebagian besar merupakan dari Kredit Kepemilikan Rumah atau KPr serta kredit untuk kendaraan bermotor. Beliau menghitung dari total jumlah yang ada, porsi pembiayaan yang dapat diraih oleh bank digital berkisar 200 hingga 300 triliun Rupiah.

Itulah penuturan dari dari Doddy, dimana dia juga mengatakan pasar terbesar dari digital banking ada pada kisaran 200 sampai 300 triliun, ini karena apa? Ritel besar seperti KKB dan KPR tersebut apa sudah tersedia prosedur guna memverifikasinya? Doddy juga melihat bahwa segmen bisa dikatakan terbatas di ritel sebab jika pindah haluan ke segmen lain, tentu pinjamannya bisa diatas 500 juta, hal ini apa mungkin terjadi?,’ pungkas Doddy.

Selain itu, memang keterbatasan dari pihak bank digital agar meraih sektor pembiayaan lain tersebut juga dipengaruhi oleh karakteristik dari pihak mereka sendiri. Kemungkinan besar, bang digital hanya bisa memfasilitasi jasa layanan perbankan yang ringan seperti pembukaan nomor rekening baru atau transfer uang. Sekalipun ada sebuah pembiayaan yang dilakukan, pastinya nominal uang yang ada tidak begitu besar atau masih lebih rendah dari segmen lain.

Doktor Ilmu Ekonomi dari UI turut mengatakan bahwa bank digital ini diduga tidak melakukan penyaluran pembiayaan ke sektor kredit modal kerja serta investasi sebab pada prosesnya memerlukan pertemuan secara langsung, seperti contoh melakukan penilaian langsung ke calon debitur dalam hal ini adalah perusahaan. Disamping itu, pertemuan secara fisik ini justru melanggar esensi  atau diluar sistem dari sebuah bank digital yang sudah ditetapkan.

Dia melanjutkan, alasan lainnya dimana pihak nasabah entah dari perusahaan atau perseorangan tidak akan menyimpan dana mereka dalam jumlah yang sangat besar ke dalam bank digital, seperti kisaran uang dari 500 juta hingga 1 miliar lebih.

Download: Aplikasi Catatan Keuangan

Sharing is caring!